Showing posts with label daily life. Show all posts
Showing posts with label daily life. Show all posts

Tuesday, December 9, 2014

Ibu-ibu penjual ubi cilembu

Bismillah,
Hari ini tumben di kosan ada ibu-ibu penjual ubi cilembu nawarin dagangannya. Waktu ibu itu nawarin ubinya ke saya, ntah kenapa secara spontan menjawab "ndak bu". Padahal setelah dipikir-pikir nyesel juga gak beli ubinya, kenapa gak bantu ibunya membeli barang dagangannya. Ibunya sebenernya belum sepuh, cuman ngliat apa yang ada di pundaknya (sekarung ubi) dan yang dibawanya (sekantong kresek ubi) jadi terenyuh, melihat betapa berat perjuangan seorang ibu membantu menafkahi keluarganya dengan rizki yang halal. Jadi nyesel kenapa tadi gak beli ubinya, minimal sedikit membantu melariskan barang dagangannya :(

Yaa Allah mudah-mudahan ibu tadi Engkau temukan dengan pembeli, Engkau lancarkan rizkinya, Engkau berkahi rizkinya....

Monday, November 24, 2014

seperti "renewable energy"

Bismillah,

Ada satu hal yang membuat saya kembali bersemangat dan seakan "menambah energi", yaitu ketika berbincang dengan adek2 sepupu yang baru masuk kuliah. Bak renewable energy, ntah kenapa setiap mendengar mereka membicarakan rencana, target ke depan, cita-cita, dan impiannya seolah membangkitkan kembali energi yang kadang hilang :D
Jadi flash back ke jaman-jaman masih muda, ketika semangat membara itu muncul, ketika idealisme-idealisme mulai dibangun....
Teruslah meraih impian-impianmu dan berprestasi adek-adeku.... tetap semangat, make us proud !!

Man jadda wajada

Monday, November 17, 2014

Give to Get

Bismillah,
Ada salah satu algoritma yang menarik di dalam sebuah sistem Peer to Peer (apa itu P2P?), terutama yang memanfaatkan protokol Bittorrent (apa itu Bittorrent?), yaitu Give to Get [1]... Algoritma ini merupakan salah satu algoritma peer selection (algoritma pemilihan peer mana yang akan diberikan data oleh suatu peer berdasarkan aturan tertentu), yang merupakan pengembangan dari algoritma standar yang ada di Bittorrent, yaitu Tit-for-Tat. Nah ide dari munculnya algoritma Give to Get ini ada karena algoritma Tit-for-Tat yang terdapat pada protokol Bittorrent tidak mampu menangani permasalahan penentuan peer secara adil oleh sebuah sistem Bittorrent ketika menangani data streaming (karena dikembangkan untuk menangani data biasa)..

Secara sederhana perbedaan Tit-for-Tat dengan Give-To-Get yaitu: pada Tit-for-Tat suatu peer cenderung akan memberikan data kepada peer lain yang juga memberikan data ke dia. Sedangkan pada Give-To-Get, suatu peer akan memberikan data ke peer lain, dimana peer lain tersebut juga telah memberikan data ke peer yang lainnya..... Bingung? (garuk-garuk kepala...)
Intinya kalau Tit-for-Tat akan memberikan data ke peer yang juga berkontribusi ke dirinya, sedangkan Give-to-Get akan memberikan data ke peer yang telah berkontribusi ke peer yang lain.

Nah berikutnya saya paksakan jadi analogi hidup...
Dalam hidup ini kita tentunya tidak lepas dari interaksi sosial seperti halnya dalam sistem P2P. Apalagi sebagai makhluk ber Tuhan, kita tentu percaya bahwa Allah akan memberikan sesuatu kepada kita, jika kita sebagai hambanya "memberikan" (melaksanakan) kewajiban ibadah kita kepada Allah. Kita juga paham bahwa segala sesuatu yang kita berikan kepada orang lain merefleksi kepada kita sendiri. Misalkan, kalau kita memberikan keburukan kepada orang lain, maka kelak akan mendapatkan hal buruk. Sedangkan kalau kita memberikan kebaikan kepada orang lain, maka kelak kita akan mendapatkan kebaikan dari orang lain tersebut....
Sebenernya lebih tepat istilahnya adalah Give-will-Get, kalau kita mampu memberikan yang terbaik dari kita kepada Allah dan sesama makhluk secara ikhlas  (tanpa memandang apakah makhluk itu telah memberikan sesuatu kepada kita, dan bukan karena mengharapkan timbal balik seperti pada Give-to-Get), insyaAllah akan diberikan balasan berupa kebaikan pula (walaupun tidak secara langsung)...

Seperti yang ada pada lirik salah satu lagu Keane....
This life, is lived in perfect symmetry...
What I do, that will be done to me....

Referensi
[1] Mol, J. J. D., Pouwelse, J. A., Meulpolder, M., Epema, D. H., & Sips, H. J. (2008). Give-to-get: Free-riding-resilient video-on-demand in p2p systems.Proceeding of the 15th SPIE/ACM Multimedia Computing and Networking (MMCN’08).

Sunday, November 9, 2014

Membingkai Surga dalam Rumah Tangga

Bismillah,
Sebenernya saya mendapatkan buku ini berawal dari tidak kesengajaan saya waktu ke Gramedia beberapa waktu lalu. Unplanned book hunting lebih tepatnya, ketika saya secara iseng-iseng pergi ke Gramedia cuman buat baca-baca buku saja, sambil nungguin waktu janjian ketemu temen kampus yang lagi nganterin mahasiswa buat event lomba.

Well, saya tidak akan bahas tragedinya gimana, yang jelas buku ini menarik minat saya untuk membelinya. Kalau gak salah buku ini adalah buku ke-5 yang membahas topik pernikahan dan rumah tangga yang berhasil saya beli (hehehehe, maklum lagi pengen banyak belajar tentang topik ini :D), setelah beberapa bulan sebelumnya berhasil mendapatkan buku karya Ustadz M. Fauzil Adhim berjudul "Kado Pernikahan untuk Istriku", hehehehe.

Ok langsung saja, "Membingkai Surga dalam Rumah Tangga". Buku ini ditulis oleh Aam Amiruddin (ustadz Aam yang sering muncul di tipi itu lho), dan Ayat Priyatna Muhlis. Secara garis besar buku ini menceritakan tentang segala hal yang berkaitan dengan pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Buku ini memberikan wawasan kepada kita tentang masalah seluk beluk pernikahan dan liku-liku rumah tangga dipandang dari sudut kajian agama. Nah menariknya jika dibanding dengan buku lainnya yang sejenis, pembahasan buku ini sangat praktis dan to the point. Di samping itu diberikan contoh beberapa studi kasus masalah, topik tertentu baik di pernikahan maupun di kehidupan rumah tangga, beserta solusi-solusi yang diberikan dengan memandang dari sudut agama Islam. Dalil-dalil yang diberikan di buku ini pun juga jelas dan shahih sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Gaya bahasa yang disampaikan pun mudah dipahami dan tidak bertele-tele.

Nah, untuk masalah topik bahasan, ada beberapa hal yang dibahas di dalam buku ini, yaitu:

  • Bahasan tentang manajemen cinta, dan tahapan pranikah
  • Bahasan tentang seluk beluk pernikahan
  • Bahasan tentang seluk belum kehidupan rumah tangga, mulai dari kewajiban suami terhadap istri, kewajiban istri terhadap suami, romantika hubungan suami istri, dll... termasuk studi kasus ketika terjadi prahara dalam rumah tangga.
Oh iya satu lagi, buku ini gak tebel kok, cuman 186 halaman, tapi menurut saya InsyaAllah dapat memberikan wawasan dan ilmu bagi saya dalam mengarungi samudra rumah tangga (cieeeee....). Walaupun sebenernya saya sakin masih banyak buku-buku serupa yang memberikan bahasan lebih detail, tapi buku ini cukup menarik dan memberikan ilmu, terutama bagi orang yang awam dan pemula (dalam kehidupan rumah tangga..) seperti saya, hehehehehe....

That's all rangkuman bukunya, untuk detailnya silahkan beli sendiri ya, atau bisa pinjem ke saya asalkan nanti dikembaliin, maklum istri belum baca, hehehehe...
Yang penting tiada lelah untuk belajar......

Salam,

Thursday, June 5, 2014

terbantu dengan BPJS

Ceritanya minggu kemarin nih, secara sedikit tidak direncanakan, ikutan mendaftar BPJS. Kebetulan pas lagi nemenin Bapak general checkup di RSUD. Sebenernya rencana pengen ikutan BPJS ini sejak dahulu kala, cuman menunggu momen yang tepat waktu pulang kampung (karena syarat mendaftar BPJS harus di domisili asal), dan kemarin sempat terdengar isu di media kalau BPJS mau berhenti.

Ada beberapa alasan sebenernya kenapa saya pengen ikut BPJS, kebetulan saya bekerja di salah satu universitas swasta di kota Malang. Beda dengan pegawai negeri yang memang untuk urusan kesehatan sudah di cover oleh Askes, untuk pegawai di universitas tempat saya bekerja tidak demikian, sejauh yang saya ketahui untuk urusan kesehatan tidak di-cover asuransi. Nah kembali ke alasan tadi, ada beberapa hal yang membuat saya berpikir untuk mendaftar BPJS, terutama setelah melihat pengalaman Bapak saya, yang kebetulan PNS, memanfaatkan Askes ketika berobat:

  1. Bapak saya menderita asma, udah dari dulu. Ada beberapa obat (spray) yang harganya lumayan mahal. Dengan Askes, Bapak saya mendapatkan obat itu dan obat lainnya secara gratis
  2. Pernah beberapa kali Bapak saya harus rawat inap di rumah sakit (seringnya karena asma akut itu). Dengan askes, biaya rawat inap + obat-obatnya menjadi tidak terlalu mahal, karena sebagian di-cover sama Askes.
  3. Yang terakhir ini yang bikin merinding, ketika Bapak saya kena serangan jantung koroner, yang mengharuskan rawat inap di ICU selama beberapa hari. Nah menurut cerita dari keluarga teman sekamar Bapak di ICU, biaya ICU dan obat-obatan untuk jantung koroner ini sangat mahal. Keluarga tersebut bercerita bahwa total biaya pengobatan berkisar antara 8jt - 9jt (sempat shock, dan sudah intip-intip buku tabungan). Tapi karena Bapak ikut Askes, total biaya pengobatan Bapak cuman 500rb (Alhamdulillah.....)
  4. Sampai sekarang, Bapak ketika general checkup pun mengeluarkan biaya yang sedikit, walaupun tetap dikasi obat-obatan yang katanya sebenarnya tidak murah
Nah karena berbagai pengalaman itu akhirnya memutuskan ikut BPJS Mandiri. Proses mendaftarnya ternyata mudah, kita cuman diminta mengisi form, kemudian diserahkan ke petugas BPJS atau bisa mengisi form secara online untuk kemudian di-print dan diserahkan ke petugas. Nah sama petugas nanti dikasi virtual account yang digunakan untuk pembayaran iuran perbulan (untuk golongan satu Rp. 59.500,-). Pembayarannya bisa dilakukan lewat teller atau ATM. Untuk internet banking sepertinya masih belum bisa.

Beberapa hari setelah mendaftar,  saya diajak adik saya untuk menemani dia operasi pengangkatan veruka (sejenis kutil di kulit). Karena kebetulan saya juga punya di jari tangan, akhirnya aji mumpung, pengen ikutan operasi juga :D. Setelah mencoba periksa ke puskesmas (kebetulan udah pegang BPJS nih), sama dokter keluarga dirujuk ke spesialis bedah di RSUD. Nah kemudian kami meluncur ke RSUD dan melakukan pendaftaran pasien periksa, sambil nyodorin kartu BPJS. Dari poli bedah saya dan adik saya dilempar ke poli kulit. Waktu dilakukan pemeriksaan, perawat tiba-tiba buka buku yang berisi contekan biaya periksa di poli kulit. Dannnn, jreng-jreng... sang perawat menyebut biaya untuk pengangkatan satu veruka (ini cuman satu kutil lho) . yaitu Rp. 360000,- (mahal sekaliiii, coba bayangkan kalau kutilnya ada banyak)

Saya langsung aja nyeletuk, "saya ikut BPJS mbak, ini di-cover gak?", mbaknya bilang "oh maaf, saya gak liat form-nya td, iya di-cover", saya membalas, "di-cover penuh mbak?", mbaknya, "iya di-cover penuh".... dalam hati "Alhamdulillah gratis :D", mengingat saya pada waktu itu nekat cuman bawa 50rb :p. Saya cuman tidak bisa mbayangkan kalau ternyata veruka-nya ada banyak dan ngangkatnya satu-satu...
Alhamdulillah....

Jadi, tertarik untuk daftar BPJS? ayooo ikutan..... :D

Saturday, April 19, 2014

kampus dan debat capres

Bismillah,

Memang di tahun politik ini media-media rame sekali membahas isu-isu mulai dari caleg, partai, maupun pencapresan. Tetapi masalahnya kebanyakan berita-berita yang ada di media itu tidak menyampaikan fakta, dan bahkan punya kecenderungan besar untuk membentuk opini-opini yang tidak objektif tentang suatu isu, ntah itu caleg, partai, pimpinan partai, maupun capres. Berat sebelah? tidak imbang? jelas iya. Karena memang beberapa media juga dikendalikan oleh beberapa politisi yang bisa jadi tidak menginginkan pemberitaan positif dari pesaingnya.
Lantas apa umpan baliknya? tentu saja rakyat yang jadi korban. Rakyat akan mudah tergiring pada suatu opini tertentu yang belum tentu itu benar, dari hasil pemberitaan media tersebut.

Nah mendekati pemilihan presiden yang rencananya diadakan tanggal 9 juli, situasi tentu semakin panas. Media-media yang dimiliki oleh politisi-politisi dan punya kepentingan tertentu sudah pasti semakin "garang" dalam "berkampanye", dan membentuk opini masyarakat. Lantas bagaimana mendidik objektifitas masyarakat terhadap capres yang akan dipilihnya?

Sedikit gagasan dari orang yang awam politik :D :
Bagaimana kalau beberapa kampus di Indonesia mengundang capres-capres tersebut untuk mengadakan debat terbuka. Nah acara debat ini (dipaksa) disiarkan langsung oleh TVRI dan RRI, termasuk stasiun TV swasta maupun radio swasta. Kenapa dipilih kampus? karena kampus adalah area yang netral bagi politik dan memiliki kontrol yang sangat baik. Di acara itu tentunya juga mengundang beberapa praktisi, pengusaha, birokrat, dll. tidak hanya akademisi saja. Saya yakin, dengan forum seperti itu, gagasan-gagasan para capres, visi dan misi yang diusungnya akan dapat tersampaikan dengan baik. Kritikan-kritikan cerdas juga pasti akan bermunculan. Dan masyarakat yang lain juga akan memahami visi, misi, dan gagasan capres secara objektif (inilah alasan kenapa stasiun TV dan radio dipaksa menyiarkan secara langsung)....
Dengan model seperti itu saya kira lumayan lah sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat. Walaupun sekarang kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi melalui internet, namun kevalidan dari informasi tersebut yang kadang masih harus dipertanyakan. Dan kecenderungan masyarakat kita masih banyak yang gampang percaya pada suatu informasi, tanpa melihat dan mau menelusuri kevalidan informasi itu....

Begitulah yang ada di pikiran saya, yang masih awam akan seluk beluk dunia politik :p, semoga bangsa Indonesia semakin baik!! :)


Friday, April 18, 2014

Trusty Tahr, seperti apa nanti?

Bismillah,

Hari ini, eh lebih tepatnya kemarin 17 April 2014, Ubuntu 14.04 LTS Trusty Tahr, secara resmi di-release. Sebenernya pengen nyobain Ubuntu baru ini, karena berharap permasalahan sebelumnya dari laptop yang saya install Ubuntu ini ada solusinya.
Awalnya saya menggunakan ubuntu 13.10, nah ada permasalahan yang muncul ketika saya menggunakan ubuntu ini:

  • Ketika tombol yang mengatur brightness saya tekan-tekan untuk mengurangi pencahayaan yang default-nya 100% tiba-tiba jadi layar jadi hitam dan dekstop mengalami freezing, jadi tidak bisa diapa-apain dan terpaksa harus di matikan dengan menekan tombol power. Pun demikian ketika saya coba setting brightness di "All Setting"
Untuk yang lain hampir tidak ada masalah, driver tambahan seperti VGA ATI dan wireless Broadcom  OK, malah saya bisa menjalankan package ap-hotspot, sehingga lepi saya bisa jadi access point untuk perangkat yang lain.

Tuesday, April 8, 2014

Paper Request

Bismillah,

Jadi ini ceritanya beberapa hari terakhir (udah seminggu kali ya), jurnal andalan IEEE tidak bisa diakses dari kampus. Akibatnya menimbulkan kekalutan beberapa penduduk kampus yang membutuhkan akses ke jurnal ini (berlebihan :p). Sebenernya kalau sedang beruntung, paper dari IEEE itu dapat di download secara gratis, tinggal nyari di Google Scholar atau CiteseerX. Tapi jelas tidak semua paper ada.

Alternatif lain, saya join group "paper request" (udah lama sih gabungnya). Disini rupanya ada orang yang berbaik hati mau bagi-bagi akses ke paper yang diinginkan (rela men-download-kan) paper yang dipesan oleh member. Group ini tidak lokal indonesia lho, tapi dari membernya dari berbagai negara :D.

Nah, kemarin secara tidak sengaja waktu request paper di group tersebut ada temen yang kebetulan lagi ada di wilayah *.tw (Taiwan) nawarin donlot paper (mungkin liat postingan request saya). Alhasil mata langsung berbinar-binar dan secara sigap mengirimkan link paper yang diinginkan. :D. Yang penting modalnya sabar menunggu....

Alhamdulillah, ada banyak jalan menuju Roma :D

Wednesday, February 12, 2014

haruskah saya pakai LaTeX?

Bismillah,
Pertanyaan ini muncul ketika pada kondisi saya harus mulai membuat (mencicil) laporan untuk tesis saya. Haruskah saya pakai LaTex untuk laporan tesis yang saya buat ini?
Well, untuk menjawab itu ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya kenapa harus menggunakan LaTeX, kenapa ndak. Apa sih LaTex itu? menurut definisi yang dijelaskan dalam situs resminya, LaTeX merupakan suatu sistem (document processor + document markup language) yang digunakan untuk menciptakan suatu high-quality typesetting (typesetting berkualitas tinggi yang menjadi acuan standar internasional penulisan dokumen seperti: paper, report, technical document, maupun scientific document). Dikatakan high-quality, karena formatting (style, font, ukuran, bentuk, tata letak) yang dihasilkan dokumen ini secara visual nyaman untuk dibaca. Disamping itu juga menyediakan beberapa fungsi untuk membuat persamaan matematis yang dibutuhkan dalam dokumen-dokumen teknis maupun saintifik.... (sebagai contoh: kalau Anda sering membaca buku impor, atau paper dari luar, biasanya mereka menggunakan LaTex untuk pembuatannya).

Sunday, February 9, 2014

Good News atau Bad News

Bismillah,
hanya sekedar beropini.
Seumpama ada sebuah pertanyaan yang ditujukan ke saya. "Milih mana, good news atau bad news?", jawaban saya adalah "berimbang" (dengan prosentase yang relatif tentu saja).

Bad news
Selalu ada, dalam artian memang dalam kehidupan nyata pastilah tidak terlepas dari sesuatu yang buruk, walaupun sebagian besar orang (yang benar) akan berusaha menghindarinya. Nah perlukah media memberitakan hal-hal yang buruk ini?. Imo, sangat perlu, kita jadi tahu apa kesalahan kita, apa kekurangan kita, bagaimana itu bisa terjadi dll. yang kebanyakan orang pastilah bisa menganalisa dengan pendekatan what, when, where, why, how. Dari mengetahui sisi negatif itu bisa menjadi suatu pemicu (trigger) bagi orang untuk memperbaiki sisi negatif itu, memikirkan, hingga menimbulkan suatu gagasan bagaimana biar sisi negatif itu tidak muncul, tidak berkembang, dan bagaimana memperbaikinya bila itu terjadi. Tetapi ini tentu saja harus dalam porsi tertentu (berapa persennya sangat relatif, dan belum saya amati :D). Umpan balik yang bisa timbul karena pemberitaan Bad News yang terlalu berlebihan tentu saja sangat banyak. Salah satunya adalah sikap pesimis, dan pikiran yang selalu buruk terhadap lingkungan (karena pemberitaan media). Bisa jadi malah orang semakin malas memperbaiki diri karena melihat fakta bahwa kondisi lingkungan sudah terlalu buruk untuk diperbaiki. Dan bisa jadi orang tersebut malah ikut-ikutan menjadi buruk (mungkin ada dampak psikologisnya kali ya :D)

Friday, February 7, 2014

(Mencoba) mapping jurnal dengan tool FreeMind

Dalam suatu proses riset, ternyata pekerjaan ngumpulin jurnal, baca, menentukan paper relevan atau tidak, kemudian proses "squeezing " jurnal menjadi suatu ide atau topik yang baru lumayan memusingkan. Dari kumpulan paper yang ada, harus bisa ditentukan apakah paper tersebut masuk ke topik riset yang diangkat atau tidak. Kemudian mengelompokan jurnal tersebut ke sub bahasan yang terkait dengan topik juga bukan perkara yang mudah. Nah permasalahannya kalau kita diminta mengingat-ingat jurnal tersebut masuk sub bahasan apa yang sangat susah, apalagi kalau jurnalnya gak cuman satu, tapi ada puluhan

Nah tiba-tiba teringat satu tool yang sering dipakai buat mapping suatu ide, dan poin-poin penting dari ide tersebut ke dalam suatu bentuk visual. Kenapa musti bentuk visual, karena menurut yg mengembangkan tools tersebut, suatu model visual lebih mudah diingat dari pada bentuk teks. Tools ini namanya "mind map" dan saya mencoba menggunakan FreeMind pada Linux Ubuntu.

Jadi idenya, saya pingin "ide tentang suatu riset" dipecah/ di-mapping ke dalam beberapa kata kunci, dan tiap kata kunci  itu memetakan paper mana saja yang relevan terhadap kata kunci itu. Bagaimana hasilnya?? Let's try it!!

Sunday, November 24, 2013

pengenalan masjid sejak dini

Beberapa bulan belakangan ini saya mengamati salah beberapa jama'ah masjid di deket kos di Bandung.
Ada salah satu jama'ah, seorang bapak yang membawa putranya yang masih balita (sekitar umur setahun lebih kira-kira) bersama-sama ikut sholat berjama'ah. Dengan tlaten, kadang bapak tersebut menggendong putranya sambil sholat, kadang membiarkan lari-lari, atau duduk dipangkuannya ketika tasyahud.
Ada bapak yang lain, yang tiap kali jama'ah, 2 orang putranya (seumuran anak TK dan SD) selalu ikut. Hampir tiap waktu sholat (kecuali subuh), 2 orang anak tersebut selalu kelihatan nongol diantara deretan shaff, bersama-sama dengan teman sebayanya pula.
Salah satu pendidikan keluarga yang mungkin sebagian orang menganggap itu sepele, tapi bagi saya itu adalah salah satu panutan yang harus di tiru, dipelajari. Mengenalkan sholat sejak balita, mengenalkan masjid, mengenalkan apa itu berjama'ah, termasuk mengenalkan bagaimana bersosialisasi.
Mungkin ini adalah salah satu contoh dan praktek buku yang kemarin saya baca, "Sudahkah aku jadi orang tua shaleh?". Mendidik anak tanpa harus diteriaki, diminta, digurui, dipaksa, dll, tapi memberi teladan, menginsipirasi, memberitahu, dan yang jelas membentuk habit secara perlahan :). Anak akan jadi menjadi terbiasa sholat, terbiasa ke masjid, terbiasa berjama'ah.

Wednesday, November 20, 2013

etika dalam menolak telemarketer

Satu topik dengan postingan sebelumnya.....
Tahu telemarketer kan? atau Anda pernah dihubungi telemarketer yang menawarkan suatu produk? Anda sebel, mangkel, risih?
Saya kira beberapa orang juga pernah mengalami perasaan seperti itu, demikian juga saya :D
Namun setelah dipikir-pikir, walau kita marah, sebel, mangkel, risih, atau apapun itu tetap kita harus beretika dalam menolak tawaran dari telemarketer (kecuali kalau sudah keterlaluan mungkin). Coba deh bayangkan kalau kita di posisi mereka? (ini terlepas dari asumsi buruk di postingan sebelumnya)
Well, ini tadi saya dapatkan dari semacam diskusi di FB (dengan senior saya), tentang bagaimana etika menolak telemarketer. Saya ambil yang menurut saya logis dan bisa diimplementasikan, tanpa menyebabkan telemarketernya tersinggung, marah, dan mendo'akan kita yang buruk-buruk (naudzubillah). *Oh iya nama akunnya saya sembunyikan*

A : Kalo emang telemarketing, bilang dulu, "Maaf. Ga tertarik, mas/mbak." Nah. Kalau sisi sononya bilang ya udah, yo wis, ya udah. Tapi kalo masih ngotot. Langsung salam trus putusin sambungan :p
B : Mungkin bisa blg "Mas/Mbak .. Saat ini saya belum butuh, nanti kalau saya butuh biar saya yg akan menghubungi anda" Habis itu biasanya mereka akan ngerti dan lsg sungkan. Moga bermanfaat sharenya
C : 
+ Maaf mengganggu, boleh minta waktunya?
-  oh saya lagi sibuk
+ nanti boleh saya telpon lagi jam berapa?
-  oh ya boleh, sore aja
   Boleh2 aja nelpon lagi, tapi saya gak jamin bakal angkat ya . Gak bohong kan
A: Atau kalo ngga langsung masukin daftar call blocker (setelah menolak/menunda dengan baik-baik tentunya) :p

Adakah yang mau ngasih tambahan?

fitur download attachment baru di Gmail

Setelah beberapa waktu lalu saya mendengar kabar dari social media, bahwa Gmail akan mengeluarkan fitur terbaru berkaitan dengan file attachment, akhirnya hari ini di nongol juga di email saya. Fiturnya simple sebenernya, cuman lumayan berguna juga.
Fitur terbaru dari Gmail ini memberi opsi yang memungkinkan kita men-download attachment ke local disk / local computer atau men-download attachment ke Google Drive. Jadi kalau ternyata attachment itu penting dan perlu backup di cloud alternatif yang nomer dua boleh kita pilih. Atau katakanlah isi attachment itu file dokumen yang (mungkin) butuh diedit bersama nantinya (secara collaborative), opsi yang nomer dua juga bisa kita pakai.
Oh iya untuk penampakan opening window dari fitur download attachment ini bisa dilihat dibawah. Dan sepertinya fitur-fitur Gmail ini masih menjadi yang terbaik menurut saya saat ini :D
Menarik bukan? Selamat mencoba !!!



SMS marketing

Tidak seperti biasa, hari kemarin saya di-"teror" oleh salah satu perusahaan penyedia jasa pinjam meminjam uang (semacam BPR lah). Kenapa tidak biasa? karena kemarin sms marketing yang masuk sebanyak 3x dalam sehari, dari nomer yang sama, dan dari orang yang sama pula. Biasanya sih sehari cuman sekali, itupun pasti saya ignore dan langsung delete. Tapi hari kemarin kayaknya sang marketer penasaran dengan kecuekan saya, hihihihi :D

Oke lah, saya kasih reaksi yang tidak terlalu berlebihan, saya balesi sms, "maaf mbak belum butuh", terlalu kasar gak ya? karena habis itu gak muncul lagi deh sms-nya :D. Tapi, kita lihat dulu, kira-kira dapat bertahan berapa hari itu nomer tidak kirim sms lagi :D....
Kadang kalau dipikir-pikir mengganggu juga sih, spamming, apalagi kalau model tele-marketer yang sampai menelpon. Tapi gak papa lah, sama-sama mencari nafkah. :)

Yang kadang saya tidak bisa terima dari model marketing seperti itu, adalah pada kasus tertentu, ada pihak yang berusaha memperdagangkan personal information (data user) dari satu tele-markter ke tele-marketer yang lain. Awalnya mungkin kita memberikan informasi secara benar kepada pihak terpercaya dalam rangka subscribe aplikasi tertentu (misal: akun bank, akun kartu kredit), akan tetapi tidak kita sadari salah satu orang dalam perusahaan tersebut sengaja memperjual belikan data personal itu. Dan kalau kebetulan datanya jatuh ke tangan orang yang salah bisa bahaya juga. Misalkan kalau tahu nama lengkap, no telp, kemudian "sang penjahat" browsing-an dan memperoleh personal information kita yang lain kan bahaya, rawan ancaman social engineering, penipuan dan lain sebagainya.

Demikian,

Tuesday, November 19, 2013

pre-review "Sudahkah aku jadi orangtua shaleh?"

Skalian posting ini deh :D
Beberapa minggu yang lalu (3 minggu tepatnya), iseng-iseng bukain twitter salah satu motivator .  Eh, ternyata di salah satu linimasanya ada rekomendasi buku bagus buat dibaca judulnya adalah "Sudahkah aku jadi orangtua shaleh?". Alhasil jadi penasaran minggu berikutnya mencoba ngubek-ngubek Gramedia depan BIP Bandung. Dan.. I'm not the lucky one, karena ternyata bukunya udah habis. Minggu berikutnya lagi nyoba browisangan nyari penerbiatnya dan order di penerbitnya langsung, dan alhamdulillah nyampe ditangan dalam beberapa hari.
Sebenernya sampai sekarang belum sempat membaca secara lengkap sih, karena masih ada PR membaca beberapa buku yang belum dituntaskan + tugas kuliah + baca paper + ngerjain tesis (yang terbengkelai), jadi mungkin tulisan ini hanya sekedar "judge the book from the cover", atau "judge the book from another reviewer" :D

Ok, beberapa chapter yang saya baca dari buku ini isinya sangat bagus, I mean, tidak hanya memberi gambaran dari sisi psikologis saja tentang bagaimana karakter anak, bagaimana mendidik anak, bagaimana memberi teladan bagi anak, dll, tetapi yang lebih utama adalah dari sisi agama. Bagaimana menanamkan aqidah dan akhlak kepada anak, tanpa harus membentak, tanpa harus memberikan paksaan, dll. Pembahasanya cukup ringan dan banyak disertai contoh kasus :). Intinya sebagai orang tua, harus paham dengan benar bagaimana mendidik, bagaimana membangun karakter anak, dan bagaimana membangun mental anak, mulai dari masa kandungan hingga beranjak dewasa. Tentu saja semuanya itu dikembalikan pada dasar agama.

For my last conclusion, buku ini sangat bagus, dan wajib menjadi salah satu referensi bagi orang tua dan calon orang tua :)
So, Sudahkah aku jadi (calon) orang tua shaleh? !!!

apa yang dirayakan, dan apa yang diperingati?

Di suatu waktu disela-sela menunggu dosen datang dalam sebuah ruangan kelas, terjadi diskusi ringan dan kecil-kecilan, tentang suatu ensensi dari kata "merayakan" dan "memperingati"..
"Merayakan", apa yang dirayakan? kenapa harus dirayakan?
"Memperingati", apa yang diperingati? kenapa harus diperangati?
Sekilas memang kedua kata tersebut sama, akan tetapi menurut persepsi saya memiliki makna yang sangat berbeda. Kalau menurut kamus semantik bahasa indonesia:

  • Merayakan[v] memuliakan (memperingati, memestakan) hari raya (peristiwa penting): ~ Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia; ~ hari lahir
  • Memperingati[v] (1) mengadakan suatu kegiatan (spt pe-rayaan, selamatan) untuk mengenangkan atau memuliakan suatu peristiwa: didirikan sebuah tugu untuk ~ jasa-jasa para pahlawan; (2) mencatat (dl buku catatan): dia selalu ~ kata-kata yg sukar dl buku yg khusus itu; (3) memberi peringatan (teguran, nasihat) supaya ingat akan kewajiban dsb: Ibu ~ pesan Ayah kpd anak-anaknya untuk berdoa sebelum tidur

Jadi mengapa menurut persepsi saya berbeda? Menurut saya kata "memperingati" lebih memiliki makna yang dalam daripada "merayakan". "Memperingati" bagi saya lebih kearah perenungan, melihat history, apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan kemudian timbul apa yang akan direncanakan terjadi. Sedangkan "merayakan", lebih bermakna kegembiraan, selebrasi apa yang sudah dicapai. Penggunaannya tentu saja (menurut persepsi saya) berbeda.

Saya ambil contoh
Ketika terjadi suatu momen pergantian usia. Setelah hati saya berkontempelasi :p, akhirnya saya lebih cocok memilih menggunakan kata "memperingati", kenapa? karena sesungguhnya esensi dari pergantian umur itu adalah terjadinya decrement pada umur kita, umur kita semakin berkurang, jatah hidup kita semakin berkurang,... Lalu, apa yang musti dirayakan, apa yang musti dikasih selamat? pencapaian yang sudah dilakukan sampai umur berganti? atau malah bertambahnya usia?.. 
Bagaimana kalau kita artikan sebagai sebuah perenungan? merenungi apa yang sudah kita lakukan, merenungi keselahan-kesalahan kita, merenungi apa yang belum kita capai, dan merenungi apa usaha kita untuk memperbaiki kedepannya. 
Ketika ada suatu perlombaan, dan kita menjadi pemenang, maka sangat cocok menggunakan kata "merayakan", mengapa? karena disitu ada kegembiraan, ada suatu pencapaian prestasi, ada sesuatu yang harus diselebrasikan, dan sebagainya

Well, begitulah menurut persepsi saya, hasil diskusi kecil disela-sela kuliah, mungkin tidak selamanya betul, kalau bener-bener dilihat dari sisi bahasa, cmiiw :D
Eniwei, untuk kasus pertama saya lebih suka sama do'a dari pada ucapan selamat :D

*tulisan random di sela-sela mengerjakan tugas yang tertunda*

Sunday, September 15, 2013

soundtrack di pagi yang cerah

Kalau pagi sedang cerah dan berangin, saya paling suka nih dengeri lagunya Tohpati, ndak tau kenapa tapi waktu denger pasti bayangin keindahan alam indonesia. Jalan-jalan melewati pepohonan di daerah pegunungunan, dengar suara ombak dan merasakan semilir angin, naik kereta pagi-pagi melewati hamparan sawah hijau keemasan terkena sinar mentari pagi, memandang hamparan mutiara hijau pepohanan dari atas bukit, dan menghirup wanginya hutan pinus.....
Oh iya ini beberapa lagu tohpati yang saya suka, kebanyakan diambil dari album Self Title yang dirilis tahun 1998:
  • Lukisan Pagi
  • Khatulistiwa
  • Let's Dance
  • Lahamulala
  • Country
  • Layang-layang
  • Land of God (Bali)
  • Menanti 
  • Sendiri 
  • Kehidupan (album Serampang Samba)
Dan inilah salah satu foto eksotisme alam Indonesia yang diambil waktu mbolang di pegunungan antara Kab. Banyuwangi dan Kab. Jember sebulan yang lalu :D 


Friday, August 23, 2013

Error sewaktu nge-"build" Oversim

Sebelumnya saya perkenalankan dulu dengan Oversim. Oversim ini adalah semacam tools yang menyediakan simulasi bagi jaringan/ aplikasi Peer-to-Peer (P2P). Hmmm, apa itu P2P? P2P merupakan suatu model jaringan dimana masing-masing komputer yang terlibat di dalamnya dapat bertindak sebagai penyedia layanan/ data maupun pemakai layanan/ data tersebut. Contoh sederhananya seperti Bittorrent dan Gnutella. (kalau suka donlot pilm-pilm pasti tau deh aplikasi ini).
Ok, saya tidak akan membahas lebih detail aplikasi ini, karena saya pengen "curhat" :p
Beberapa waktu kemarin (udah 3 mingguan) dipusingkan dengan error sewaktu nge-build Oversim. Nah Oversim ini biar bisa jalan butuh environment pendukung, yaitu Omnet++ dan INET. Omnet++ merupakan environment untuk membuat simulasi jaringan komputer, sedangkan INET menyediakan environment dasar untuk mensimulasikan beberapa macam protokol dasar, seperti IPv4, IPv6, dll.
Nah, berulang kali saya mencoba melakukan build ketiga environment tadi secara berurut, yaitu Omnet++, INET, dan Oversim. Untuk Omnet++ tidak ada masalah, akan tetapi untuk INET dan Oversim muncul error seperti ini


Sudah berulang kali membaca manual instalasi, tetep aja muncul seperti itu, sampai berganti OS dari Win7 ke Linux juga tetep error-nya. Sampai beberapa waktu yang lalu juga pernah mengutak atik source program tetep aja sama. Alhasil, sudah hampir mutung (putus asa) mencari solusi untuk error tersebut, sementara di beberapa forum tidak menemukan solusinya.
Akhirnya nemu beberapa blog yang memuat tulisan tentang manual build Oversim. disini ini alamatnya.
Setelah dibaca dengan teliti akhirnya sadar kesalahannya apa. Ternyata versi Omnet++ yang saya gunakan sebelumnya terlalu tinggi, sehingga tidak di support sama INET dan Oversim yang saya gunakan.
Kira-kira tulisannya seperti ini
"Please note that the current version of Oversim only supports Omnet++ 4.1, and not Omnet++ 4.2 or later"
Dimana yang versi yang saya gunakan di Oversim-nya adalah 20101019. Oh iya satu lagi, untuk INET-nya saya menggunakan INET yang sudah di-patch untuk Oversim dengan versi 20101103, jadi sebenernya kita tinggal build dan makai aja. Alhamdulillah semua sudah di-build dengan sukses dan berhasil dijalankan simulasinya setelah mengikuti petunjuk tadi.

That's all curhatan saya :p, kesimpulannya cuman satu, telitilah membaca sebelum memulai :p
Sori kalau bahasanya terlalu teknis, kalau bingung Googling aja atau bisa buka tautan-tautan diatas ^^v


Sunday, August 11, 2013

salah (si)apa kira-kira?

Alkisah suatu ketika saya sedang liburan (silaturahim) keluar kota, ke keluarga bapak saya. Dalam perjalanan saya pun tidak terlepas dari gejala pengen buang air, karena memang habis minum banyak. Nah, jadilah saya minta pengemudi mobil buat minggirin ke salah satu pom bensin.
Sampai di pom bensin, langsung kabur ke toilet, dan kebetulan sekali sudah banyak pengunjung toilet yang mengantri. Sambil clingukan mencari mana yang kira2 kosong saya membaca beberapa tempelan pengumuman yang melekat di tembok toilet, dan tembok mushola yang tidak jauh dari toilet dan tempat wudlu (masih satu lantai). Nah kebetulan sekali ada seorang ibu2 yang dengan enaknya menaikan alas kaki (sendal) di depan toilet itu, padahal di tembok sudah tertulis pengumuman "alas kaki/ sandal/ sepatu harap dilepas". Langsung tergerak hati saya buat "menegur" ibuk itu, "buk maaf, alas kaki harap dilepas"....
Kenapa saya langsung menegur? alasannya adalah:
  1. Pengumuman yang ditulis di tembok sangat besar, tidak cuman 1 pengumuman, bahkan ada 2 pengumuman, pikir saya masak ya gak bisa baca, walaupun lantai agak lusuh
  2. Karena toilet masih satu lantai dengan tempat wudlu dan mushola, masak gak paham kalau seharusnya mencopot alas kaki
Sebenernya waktu saya "nyinyirin" ibuk itu, para pengantri toilet (yang lain) ngliatin saya, mungkin dipikirnya orang ini (refer to saya) cerewet sekali :p. Tapi ya sudahlah, dari pada orang suka menyepelekan beberapa hal kecil (poin 1), lebih baik yang ngerti ya ngingetin.Ya saya analogikan ketika ada orang yang seenaknya buang puntung rokok/ bungkus permen di suatu tempat (secara sembarangan), kemudian ada orang yang berpikiran sama ("ah cuman bungkus permen") melakukan hal yang sama pula, akhirnya pasti sampah akan menumpuk
Tapi dari situ saya juga banyak bertanya, kira2 (si)apa yang salah? Apakah tulisan kurang besar? Apakah lokasi kurang pengumuman kurang strategis? Apakah memang mental kebanyakan orang suka menyepelekan hal kecil?

Note:
Setelah masuk toilet, saya lebih kecewa lagi, ternyata toilet sangat kotor, air tinggal dikit dan sudah kotor. Tapi apa mau dikata udah terlanjur masuk ke dalam dan keinginan sudah tak terbendung lagi x_x